
JawaPos.com – Langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengarahkan untuk membunuh Kepala Pasukan Elit Quds Iran, Mayor Jenderal Qassem Soleimani membuat Timur Tengah bergejolak. Peristiwa itu kemudian dikaitkan dengan kepentingan politik di AS yang akan menggelar Pemilu pada 3 November 2020.
Dilansir dari Financial Times, Minggu (5/1), para pejabat administrasi dan anggota parlemen Partai Republik memuji serangan Trump sebagai langkah berani terhadap ancaman Soleimani terhadap kepentingan AS. Sementara itu Ketua DPR AS Nancy Pelosi justru mengkritik tindakan Trump.
Baca juga: Bunuh Jenderal Iran, Trump Disorot Hukum Internasional
“Prioritas tertinggi para pemimpin Amerika adalah melindungi kehidupan dan kepentingan Amerika. Tapi tentu tidak bisa membahayakan nyawa anggota layanan Amerika, diplomat, dan lainnya dengan terlibat dalam tindakan provokatif dan tidak proporsional,” sebut Pelosi.
Sementara itu, mantan wakil presiden dan bakal calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden dalam pemilihan November mendatang ikut bereaksi. Dia mengatakan Trump seolah telah melemparkan dinamit ke dalam kotak rokok.
“Saya berharap pemerintah telah memikirkan konsekuensi urutan kedua dan ketiga dari jalan yang mereka pilih,” kata Biden.
Jika ditarik ke belakang, pemakzulan Trump oleh DPR AS masih terus bergulir. Nasib Trump akan ditentukan pada Januari ini dalam proses voting di Kongres AS. Alasan Trump dimakzulkan mengacu pada dua pasal, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan penghambatan penyelidikan Kongres. Trump dituding menggunakan kekuasaannya untuk menjegal langkah politik pesaingnya, Joe Biden, di Pilpres 2020. Dia juga dituding meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki kasus pengemplangan pajak perusahaan minyak Burisma.
Kini, langkah Trump untuk mengarahkan serangan yang menewaskan komandan militer Iran telah meningkatkan ketegangan antara kedua negara. Sejumlah spekulasi menduga ini bagian dari strategi Trump.
Baca juga: Iran Langgar Perjanjian Nuklir, Wujud Serangan Balasan untuk Trump
Dilansir dari BBC, Minggu (5/1), Mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS dan penulis Red Line: American Foreign Policy in a Time of Fractured Politics and Failing States, PJ Crowley menilai Trump telah lama berjanji untuk membawa pasukan Amerika keluar dari Timur Tengah. Namun, di bawah kepemimpinannya, hubungan AS dengan Iran menjadi lebih tegang karena dia telah memberlakukan sanksi dan menarik diri dari kesepakatan nuklir yang dulu disepakati sejak era Barack Obama.
Hal itulah yang diyakini para pakar kebijakan luar negeri AS ada kepentingan di belakang keputusan Trunp untuk membunuh Qaseem Soleimani. “Trump bukan ahli strategi besar,” katanya.
Iran telah berjanji untuk merespons dan akan membalas dendam. Mereka cukup mengerti tentang politik Amerika untuk mengetahui bahwa kunci kampanye pemilihan ulang Trump adalah ekonomi AS. Jika mereka dapat mengacaukannya, Iran akan berhasil.
Editor : Edy Pramana
Reporter : Marieska Harya Virdhani
"politik" - Google Berita
January 06, 2020 at 06:04PM
https://ift.tt/36p5co6
Kematian Jenderal Iran dan Kepentingan Politik Trump Jelang Pemilu AS - Jawa Pos
"politik" - Google Berita
https://ift.tt/37GUyJP
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update
No comments:
Post a Comment