Rechercher dans ce blog

Monday, March 16, 2020

Waspada Politik Patronase - TIMES Indonesia

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pesta demokrasi di tingkat daerah akan digelar secara serentak. Dalam menyambut momentum lima tahunan ini setiap daerah mulai diwarnai dengan banyak gambar calon kepala daerah. Pelbagai jargon dari calon kepala daerah dapat diamati selalu memuat ajakan positif dan menarik. Tentu inilah yang dinamakan branding politikus guna meraih suara dari masayarakat.

Namun strategi branding tersebut  harus dibarengi dengan implementasi moral yang baik untuk menghormati pelaksanaan Pilkada serentak.Ketika hal itu tidak dilakasanakan maka tindakan negatif akan terjadi dan menciderai demokrasi ditingkat daerah ini. Oleh sebab itu masayarakat perlu memperhatikan beberapa strategi yang dilakukan oleh kandidat. Perlu diwasapadai misalnya politik patronase dan klientelisme yang sering berakar dalam pemilukada.

Politik Patronase berakar dalam demokrasi

Patronase adalah sebuah pembagian keuntungan di antara politisi untuk mendistribusikan sesuatu secara individual kepada pemilih, broker atau pegiat kampanye, dalam rangka mendapatkan dukungan politik dari mereka (Shefter, 1977). Dengan kata lain patronase ialah distribusi uang tunai, barang, jasa, dan keuntungan ekonomi lainnya (seperti pekerjaan, jabatan di suatu organisasi atau pemerintahan atau kontrak proyek) yang diberikan oleh politisi kepada masayarakat.

Mengutip dari (Aspinall & Sukmajati, 2016) jenis dari politik patronase dibedakan menjadi empat. Pertama money politic atau vote buying. Sistem kerja yang pertama ini sering dijumpai dalam masayarakat ketika menjelang pemilihan kepala daerah.Tentu besar kecilnya keuntungan yang didistribusikan oleh politikus tergantung dengan jumlah suara yang diperlukan. Kedua kelompok/ komunitas (misalnya, lapangan sepak bola baru untuk para pemuda di sebuah kampung,sragam untuk ibu-ibu kelompok pengajian, pemberian pupuk kepada kelompok tani).

Ketiga Pork barrel ialah salah satu bentuk dari politik distributif, dimana politisi (baik lembaga legislatif maupun eksekutif) berusaha untuk mengalokasikan sumber daya material dari negara kepada pendukungnya dalam kerangka mobilisasi masa. Para politisi berusaha mewujudkan program yang konkret kepada konstituennya dalam rangka terpilih kembali di pemilu berikutnya. Dari sisi yang lain, konstituen berusaha mendapatkan program material dari negara untuk memenuhi kebutuhan mereka.Tentu dapat dipahami bahwasanya disini terdapat saling tukar menukar antara kebijakan dengan suara anatara kandidat dengan pemilih.

Terakhir programatik (programatic goods), yaitu materi yang diterima oleh seorang yang menjadi target dari program-program pemerintah, misalnya, program kartu pelayanan kesehatan yang menawarkan perawatran gratis untuk penduduk miskin (Stokes, 2013).Dengan kata lain programatik ini menarik suara masayarakat dari program yang menguntungkan kandidat yang pernah menjabat sebelumnya atau petahana.

Strategi patronase ini sangat sering kita jumpai pada pesta demokrasi baik tingkat legislatif maupun eksekutif.Pork barrel dan programatik sering dijadikan alat kampanye oleh kandidat petahana. Mengapa demikian? Karena yang dapat memberikan kebijakan dan program kepada masayarakat ialah mereka yang pernah menjabat sebelumnya. Semisal kandidat A pernah menjabat sebagai walikota dan memiliki kebijakan serta program maka kemungkinan besar mereka akan menuliskan kebijakan dan program mereka pada baliho pencalonan.

Terlebih kandidat petahana akan memiliki tabungan suara pada daerah yang sering mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah. Sehingga kandidat tidak perlu banyak membuang tenaga untuk kampanye. Padahal bantuan,program dan kebijakan tersebut menggunakan uang dari pemerintah , tentu hal ini menyalahi aturan yang ada pada pemilukada serentak.

Selanjutnya yakni distribusi kelompok yang sering ditemukan ialah kandidat masuk kedalam organisasi di masayarakat. Organisasi yang sering menjadi sasaran yakni kelompok ibu- ibu pengajian disini kandidat sering memberikan sragam, sembako , kalender bahkan wisata religi. Selain itu kelompok tani menjadi harapan bagi kandidat untuk memperoleh suara dengan memberikan pupuk gratis, alat pertanian.

Dewasa ini kelompok milenial merupakan incaran para kandidat dalam memobilisasi masa dengan memanfaatkan pemilih pemula. Tentu strategi ini tidak langsung kepada anggota kelompok melainkan dengan hanya mempercayakan kepada ketua/tokoh dalam organisasi tersebut.

Vote buying merupakan pilihan bagi kandidat baru maupun petahana, hal ini menjadi perhatian penting bagi masayrakat karena dengan memberikan uang kandidat dapat memobilisasi pemilih dalam memenangkan pemilukada.

Strategi menghadapi politik patronase

Pendidikan politik sangat perlu dalam masayarakat,karena hal ini dapat mencegah terjadinya kecurangan dalam pesta demokrasi. Waspada memang perlu dilakukan ,menginggat banyak sekali jenis dari politik patronase. Sebagai masyarakat mengetahui latar belakang kandidat sangat penting .Tentu dalam hal ini menjadi acuan dalam memilih ketika masyarakat mengetahui strategi yang digunakan kandidat dari latar belakangnya.

Selain mengetahui latar belakang sebagai masayrakat yang sadar dengan hukum kita menolak pemberian uang dari kandidat dalam bentuk apapun. Sehingga ketika terdapa kandidat nantinya yang memberikan vote buying kita menolak bahkan hal tersebut harus dilaporkan kepada bawaslu maupun pihak berwajib karena menyalahi aturan dalam pemilukada.

Dengan demikian kita belajar pendidikan politik yang dimana salah satunya mewaspadai politik patronase dengan mengenali jenisnya untuk menyambut Pilkada Serentak 2020 dengan jujur dan adil.

***

*) Penulis adalah Haidar Fikri, Alumni Universitas Sebelas Maret.

*)Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

_____________
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Let's block ads! (Why?)



"politik" - Google Berita
March 16, 2020 at 12:36PM
https://ift.tt/3d8kWjl

Waspada Politik Patronase - TIMES Indonesia
"politik" - Google Berita
https://ift.tt/37GUyJP
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update

No comments:

Post a Comment

Search

Featured Post

Granblue Fantasy: Relink's Demo Will Make a Believer Out of You - Kotaku

depolitikblog.blogspot.com Before multiple friends of mine went out of their way to sing the praises of Granblue Fantasy: Relink to ...

Postingan Populer